Monday, January 27, 2014

Untuk adik yang sedang berjuang di dalam forum,

Mulai hari ini kamu akan berjalan satu langkah di depan saya. Berproses tanpa kehadiran saya di sisimu.
Mulai hari ini kamu akan lepas dari bayang-bayang saya. Berjalan di belantara dengan eksistensi sendiri.
Jangan bersedih hati, adikku..
Jangan pernah gunakan perasaan untuk hal-hal yang bisa memperlambat gerakan.
Gunakan perasaanmu untuk pergerakan maksimal.

Karena saat kamu mengalahkan saya, saat itu juga akan menjadi titik pencapaian keberhasilan saya..

Sunday, January 19, 2014

Dari BI09ENIK, untuk Kelahiran dan Kaderisasi

Di cuaca yang sama seperti ini tepat setahun yang lalu, saya mengikuti rapat kerja dan upgrading lembaga untuk periode kepengurusan 2012-2013. Saat itulah titik keberangkatan saya memasuki dunia ini. Dunia mahasiswa kura-kura kalau kata sebagian orang. Menjadi bagian dari lembaga kemahasiswaan di fakultas.
Memasuki gerbang kelembagaan dan menjalani hari-hari di dalamnya menjadi pengalaman tersendiri yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Bukan hal yang mudah memilih ini sebagai jalan hidup. Apalagi di tengah teman-teman yang notabene akademisi, status sebagai seorang perempuan, dan posisi sebagai anak sulung dengan tuntutan harus cepat-cepat mapan dari segi finansial untuk bisa membiayai adik-adik. Tapi bukan keadaan itu yang akan saya ceritakan hari ini.
Hari ini adalah hari kedua MuBes. Hari pertama kemarin sebagian besar diisi dengan laporan pertanggungjawaban BEM kepada BLM. “Jangan diterima karena kasihan, dan jangan ditolak karena kebencian.” Kurang lebih seperti itu kalimat penutup yang disampaikan Presiden BEM di akhir presentasi. Setelah itu, ketua BLM mengumpulkan pengurusnya –termasuk saya–  untuk membahas hasil dari keseluruhan LPJ.
Di dalam ruangan tertutup (sok rahasia banget --“) kami mengevaluasi semuanya termasuk memaparkan pertimbangan masing-masing pengurus tentang diterima atau tidaknya LPJ periode ini. Saat giliran saya tiba, entah kenapa mendadak ada perasaan aneh. Kehilangan? Kurang lebih seperti itu (FYI, moment seperti ini adalah salah satu perbedaan mendasar perempuan dan laki-laki. Karena kami perempuan, cenderung mempertimbangkan segalanya dalam-dalam dengan keterlibatan perasaan. Tapi tetap professional, tentu saja).
Dan melalui jurnal harian ini saya akan memaparkan pendapat saya berdasarkan apa yang saya jalani setahun belakangan.
Periode ini adalah periode kepemimpinan kakak-kakak BI09ENIK. Just try to be honest, secara kasat mata bisa dinilai minus. Pengurus yang ‘kabur’ di tengah periode kerja, departemen yang mangkir dari program kerjanya, pengalihan tanggung jawab, dan hal-hal lain yang bahkan bisa disebut inkonstitusional.
Tapi saya pribadi tidak menyimpulkan dari sisi itu. Penilaian saya adalah pencapaian tak kasat mata dari mereka. Kaderisasi dan kelahiran.
Tidak banyak yang menyadari. Tapi saya pribadi meyakini dengan pasti bahwa saya bisa seperti sekarang ini karena mereka. Merangkak keluar dari stagnansi mahasiswa apatis menuju pergerakan yang sesungguhnya.
Memang bukan cuma saya, tapi saya mungkin kader yang paling banyak dikawal dalam mewujudkan pencapaian. Sebut saja beberapa pelatihan dan event-event nasional yang saya hadiri. Dan kalau suatu saat nanti saya berada di puncak pencapaian, itu tidak terlepas dari kerja keras mereka.
Mereka mungkin tidak mencetuskan program kerja ‘WOW’ sebagaimana periode sebelumnya yang mempelopori inaugurasi besar-besaran. Tapi di tangan merekalah lahir gebrakan-gebrakan baru. Perumusan SOP Lembaga yang menyita sebagian besar bulan ramadhan dan penyelenggaraan kembali Dialog Akademik setelah vakum selama satu dekade adalah dua diantaranya. Jangan lupakan Pra-LK 2013 yang kemudian menjadi langkah baru kaderisasi KABAMAFAR UMI Makassar.
Yang selanjutnya? Peninjauan habis-habisan terhadap konstitusi yang berlangsung saat ini mungkin menjadi penutup yang sempurna.
Dan pagi ini saya terbangun dengan senyuman. Di atas segalanya, terimakasih yang tak terhingga untuk kakak-kakak BI09ENIK.

Dan teruntuk pengurus selanjutnya, selamat melanjutkan perjuangan. Selamat merawat dan mengawal apa yang sudah dilahirkan kakak-kakak BI09ENIK..

Saturday, January 11, 2014

To be on the edge of breaking down and no one’s there to save you.. –Simple Plan

Beberapa hari belakangan, semua terasa kacau. Berantakan di semua sisi. Emosional, finansial, bahkan spiritual. Blacknotes from the black era tiba-tiba membuka dengan sendirinya di depan mata. Dan seakan ada kekuatan magis, saya tersedot ke dalamnya. Terus terseret ke pusaran masa lalu.
Ada yang salah, saya bergumam perlahan. Bukankah saya sudah mengikhlaskan semuanya? Menjilidnya dengan rapih ke dalam buku kehidupan. Berharap kelak bisa menjadi pelajaran di masa yang akan datang. Atau mungkinkah apa yang dikatakan orang-orang itu benar? Bahwa ikhlas tidak akan menjadi ikhlas yang sesungguhnya saat kau masih bisa melafalkannya?
Tutup buku. Itu yang saya harap. Tapi entah mengapa, berusaha sekuat apapun buku yang saya maksudkan tidak bisa tertutup rapat. Seakan ada yang mengganjal.
“Mungkin ganjalan yang yang kamu maksudkan bukan berhubungan dengan orang lain. Melainkan dengan diri kamu sendiri.” Kata seorang teman.
“Maksud kamu?”
“Belajar memafkan diri sendiri, Nis. Sebelum mengharap orang lain memaafkan kita, yang lebih utama kita harus bisa memaafkan diri sendiri.”
Terdiam sejenak, mendadak saya merasa asing di dalam diri sendiri. Sudahkah saya mengenal saya? Sampai akhirnya saya tersadar. Seperti kata teman saya tadi, memaafkan diri sendiri bukan berarti membenarkan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Tetapi memafkan diri adalah bentuk penjernihan pikiran bahwa hidup itu tidak hanya masa lalu..