Saturday, April 19, 2014

Selamat Subuh dari Sao Kareba :)


Beberapa waktu belakangan saya banyak menghabiskan waktu di tempat yang oleh sebagian penghuni kampus ini disebut ‘tempat mangkal’. Kompleks tempat berderetnya sekretariat UKM kampus yang juga dikenal dengan sebutan kampung belakang. Tempat yang siklus biologis para penghuninya cenderung terbalik jika dibandingkan dengan manusia kebanyakan.
Rumah kedua bagi saya saat ini.
Tidak seperti tempat saya berproses sebelumnya yang dilengkapi dengan pendingin ruangan, aula besar dan kamar mandi yang lumayan manusiawi, di tempat ini hanya ada kipas angin karatan, lemari yang sudah hampir roboh, dan karpet-karpet ala kadarnya. Kamar mandinya? Jangan ditanya. Tempat yang tumpukan korannya lebih banyak dari tumpukan sampah, tempat yang di dalamnya berisi makhluk-makhluk ajaib.
Terlepas dari semuanya, di tempat ini saya belajar banyak hal. Belajar lebih menghargai, lebih mengerti, lebih mawas, termasuk ditempa menjadi lebih kuat. Di tempat ini juga saya menemukan satu lagi pembuktian bahwa “Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya”. Karena disini, saya merelakan apa yang sebelumnya saya anggap sebagai salah satu pencapaian terbesar.
Ini adalah pagi kesekian saya di Sao Kareba dan perasaan excited  ini tetap ada. Saya termasuk salah satu orang yang paling benci dengan hiruk pikuk kampus di siang hari, terlebih di fakultas sendiri. Dengan wajah-wajah penuh beban mahasiswa, entah kenapa di siang hari kampus lebih terasa sebagai lokasi tiang gantung ketimbang tempat menuntut ilmu. Tapi Sao Kareba menjelang pagi terasa begitu sempurna. Udara jernih, kicau burung, pepohonan yang seakan ikut berbagi, dan yang paling penting adalah masjid yang lengang.
Masjid yang lengang. And by the way, ini adalah rekomendasi khusus saya bagi kawan-kawan penghuni kampung belakang. Coba bangun jam 5 pagi, kemudian langkahkan kaki dari sekret masing-masing menuju masjid. Perhatikan semuanya. Rasakan segala sesuatu seakan menjadi milikmu sendiri, menemanimu melangkah menuju rumah-Nya..
#srikandiFOSIS

Saturday, April 5, 2014

Dan kawan, bawaku tersesat ke entah berantah.. –Banda Neira


Setiap orang mempunyai kampung halamannya masing-masing. Sebuah tempat yang aman. Sangat aman sampai terkadang dia tidak sadar akan bahaya yang mengancam. Tapi aman belum tentu nyaman.
Kau mungkin saja lahir dan tumbuh besar di sana. Tapi itu tidak menjamin lingkungan menerimamu sepenuhnya. Dikisahkan dalam Happy Feet, seekor penguin bahkan diragukan eksistensinya sebagai penguin hanya karena tidak bisa bernyanyi. Hanya karena berbeda dari penguin kebanyakan.
Terkadang aku letih. Menjadi berbeda membuatku kehilangan satu per satu yang kumiliki. Tapi aku tahu, alam sedang bekerja untukku. Membuka mataku untuk memperlihatkan apa dan siapa yang sesungguhnya bertahan di sampingku.

Dan hari ini, aku memutuskan keluar dari lingkungan yang selama ini menaungiku. Tidak. Aku tidak menyerah. Aku hanya tidak tahan tinggal di lingkungan yang jalan-jalannya dipenuhi ludah yang terinfeksi penyakit hati dan pejabat yang menjilati ludah sendiri demi terlihat bersih.
Melangkah keluar dari gerbang, aku bertemu dia. Seseorang yang bahkan tidak menyadari situasi di dalam gerbang. Seorang kawan yang tanpa banyak tanya, berjalan di sisiku. Menggenggam tanganku erat. Bersenandung kecil, menyanyikan keindahan.
Bersamanya aku memutuskan kembali melangkah. Tidak perlu mempertanyakan arah. Itu tidak masalah. Selama aku terbebas dari jalanan penuh ludah.
Dan bersamanya aku berharap dipertemukan kembali dengan harapan. Seperti Mumble kecil dalam Happy Feet yang menemukan kesejatian doa dan harapan dalam rangkaian perjalanannya..

Tuesday, April 1, 2014

Mungkin ku bajingan. Tapi bukan penjahat perang yang selalu menikam tanpa belas kasihan.. –PAS BAND


Dan semua terasa berbeda saat ini. Ada makna tersirat dalam tatapan mata mereka. Apa artinya, aku tidak mengerti.
Entah sejak kapan aku dijadikan ancaman. Momok menakutkan. Pada awalnya, hanya bagi sebagian orang. Tapi entah bagaimana caranya, berita merambat begitu cepat.
Tak perlu menderita penyakit menular untuk dijauhi semua orang. Pun tak usah membawa virus menular. Karena menjadi minor ternyata dengan mudahnya membuatmu jadi musuh bersama.
Dan sekarang, aku tahu bagaimana rasanya menjadi Naruto kecil yang berdiri sendirian menghadapi ratusan pasang tikaman sorot mata warga desa.
Gentar? Sama sekali tidak. Tapi apa yang bisa kulakukan selain berdoa? Balas menatap dalam-dalam sambil berharap alam kembali bekerja. Membisikkan ke telinga mereka bahwa aku bukan ancaman..